Tampilkan postingan dengan label CERMIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERMIS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 April 2017

PERNIKAHAN DENGAN LELEMBUT

Pernikahan Dengan Jin
 
Serangkaian peristiwa aneh menghiasi pernikahan antara Ki Buyut Beji dengan putri dari kerajaan jin. Tutur mengatakan, anak keturunan dari pernikahan makhluk berbeda alam ini melahirkan manusia-manusia yang pilih tanding….
Dikisahkan, ketika itu Kerajaan Banten belum menganut Islam. Kyai Terumbu memiliki lima orang anak. Anak pertama bernama Abdul Fattah, atau terkenal dengan sebutan Ki Beji atau Ki Buyut Beji. Julukan ini karena Abdul Fattah terkenal sebagai sosok berhati besi .
Nah, kisah Ki Buyut Beji inilah yang kemudian terjalin sedemikdan rupa, dengan berbagai keanehan di dalamnya sehingga menyerupai sebuah legenda. Seperti apa? Ikuti terus sajian ini…
Dikisahkan, menjelang dewasa, Ki Buyut Beji memiliki seorang istri. Namun istrinya tersebut tidak berumur panjang. Karena itulah dia ingin mencari istri kembali. Tapi para wanita tidak ada yang mau menjadi istrinya karena takut akan berumur pendek. Akhimya, Ki Buyut Beji menghadap ayahandanya Kyai Terumbu.
Oleh Kyai Terumbu, dia disarankan untuk mencari istri dari golongan jin. Syarat agar mendapat istri dari golongan jin adalah dengan membuat sumur pemandian di satu kampung yang terdapat hutan. Dan hutan tersebut harus belum pernah di jamah manusia. Apabila sumur itu digunakan mandi oleh wanita dari golongan jin, maka, Ki Buyut Beji harus berusaha mengambil salah satu pakaiannya.
Setelah menerima wejangan dari ayahandanya seperti itu, Ki Buyut Beji pun mencari kampung dimaksud. Maka didapatlah kampung yang bernama Kajemen. Di sanalah dia menggali sumur. Namun, setelah beberapa lama menunggu, tidak satupun wanita dan golongan jin yang mandi.
Setelah gagal, Ki Buyut Beji membuat sumur yang sama di Kampung Pontang (dekat Tirtayasa) Setelah beberapa hari menunggu, ternyata juga tidak ada hasilnya.
Karena dua kali gagal, akhimya dia kembali menghadap ayahandanya. Oleh Kyai Terumbu, Ki Buyut Beji diperintahkan untuk membuat sumur di kampung yang di tempati Kyai Terumbu, yaitu Kampung Padadaran (sekarang bemama kampung Terumbu dan sumumya dikenal dengan nama sumur Pulauan-Pen)
Setelah selang tiga hari menunggu, maka, terlihat tanda-tanda air sumur telah keruh. Ini berarti ada jin wanita yang telah mandi. Keesokan malamnya, Ki Buyut Beji mengintip sumur buatannya dan terlihat olehnya tiga jin wanita sedang mandi Dua jin wanita mengetahui bahwa Ki Buyut Beji sedang mengintip mereka, maka, keduanya segera mengambil pakaiannya dan langsung menghilang. Tinggal satu jin wanita yang masih di sumur. Ki Buyut Beji segera mengambil pakaiannya, dan menyembunyikannya di dalam lumbung padi.
Jin wanita itu mencari pakaiannya dan bertemu dengan Ki Buyut Beji. Oleh K Buyut Beji jin wanita itu diberikan pakaian manusia Syahdan, dia lalu diajak oleh Ki Buyut Beji ke tempat Kyai Terumbu.
Oleh Kyai Terumbu, Ki Buyut beji dinikahkan dengan jin wanita itu. Ki Terumbu memberi tahu kepada Ki Buyut Beji bahwa mereka akan hidup normal selayaknya manusia selama pakaian itu tidak ditemukan jin wanita yang telah menjadi isteri syahnya.
Suatu saat Ki Buyut Beji diundang rapat oleh para Wali Songo di Demak. Dalam perjalanan ke Demak ada beberapa kejadian penting yaitu
1. Pada hari pertama perjalanan, Ki Buyut Beji menemukan burung dara mati di depannya, dan dia pun menangisi burung tersebut sambil berkata, “Andai saja Allah menjadikan burung ini hidup kembali, maka dia akan dapat berguna bagi anak dan keluarganya”. Dan seketika itulah Allah SWT mengabulkan permintaan Ki Buyut Beji..Burung itu langsung hidup dan dengan izin Allah dapat berbicara dengan bahasa manusia. Burung itu berkata kepada Ki Buyut Beji, “Jika Ki Buyut Beji butuh pertolongan; maka, saya akan membantu. Hentakkanlah kaki Ki Buyut ke bumi tiga kali sebelum memanggilku, maka, aku akan datang. “Baiklah, bila aku membutuhkan pertolonganmu aku akan panggil dirimu! ” Balas Ki Buyut Beji. Kemudian burung dara itu pergi meninggalkan Ki Buyut Beji
2. Pada hari kedua perjalanan, Ki Buyut Beji menemukan belut putih mati di depannya. Ki Buyut Beji pun kembali menangisi belut tersebut sambil berkata, “Andai saja Ya Allah, belut ini hidup kembali, maka dapat berguna bagi anak dan keluarganya.” Dan seketika itu Pula Allah mengabulkan permintaan Ki Buyut Beji: Belut itu langsung hidup, dan dengan izin Allah dapat berbicara dengan Bahasa manusia. Belut itu berkata kepada Ki Buyut Beji, “Jika Ki Buyut Beji butuh pertolonganku, maka, aku akan membantumu. Hentakkan kaki Ki Buyut ke bumi tiga kali sebelum memanggilku, maka, aku akan datang kepadamu. “Baiklah bila aim membutuhkan pertolanganrnu aku akan panggil kamu!” Balas Ki Buyut Beji. Kemudian belut itu pergi meninggalkan dirinya, hilang raib begitu saja.
3. Pada hari ketiga perjalanan, Ki Buyut Beji menemukan lalat besar mati di depannya. Sama seperti terhadap kedua makhluk terdahulu, Ki Buyut pun kembali menangisi lalat besar tersebut sambil berkata, “Andai saja Ya Allah lalat ini hidup kembali maka dia akan berguna bagi anak dan keluarganya.” Dan seketika Allah SWT mengabulkan permintaan Ki Buyut Beji. Lalat itu pun langsung hidup kembali, dan dengan seizin Allah dapat berbicara dengan bahasa manusia. Lalat itu berkata kepada Ki Buyut beji, “Jika Ki Buyut Beji butuh pertolonganku, maka, aku pun akan membantumu. Hentakkan kaki Ki Buyut ke bumi tiga kali sebelum memanggilku, maka, aku akan datang kepadamu.”. “Baiklah, bila aku membutuhkan pertolonganmu, maka, aku akan panggil dirimu! ” Balas Ki Buyut Beji, Kemudian lalat itu pun pergi meninggalkan Ki Buyut Beji, hilang raib dari hadapannya
Pada malam terakhir perjalanan pulang dari Demak menuju Kampung Terumbu, Banten, Ki Buyut Beji menemukan burung garuda besar mati di depannya. Sama seperti yang terdahulu, Ki Buyut Beji pun kembali manangisi garuda besar tersebut sambil berkata, “Andai saja Ya Allah burung ini hidup kembali, maka dia akan dapat berguna bagi anak dan keluarganya.”Dan seketika itu pula Allah SWT mengabulkan permintaan Ki Buyut Beji. Burung garuda itu langsung hidup dan dengan seizin Allah dia dapat berbicara dengan bahasa manusia.Burung garuda itu berkata kepada Ki Buyut Beji, “Jika Ki Buyut Beji butuh pertolonganku, maka aku akan membantumu: Hentakkan kaki Ki Buyut ke bumi tiga kali sebelum memanggilku, maka, aku akan datang ke hadapanmu!”
“Baiklah, bila aku membutuhkan pertolonganmu aku akan panggil dirimur.” Balas Ki Buyut Beji. Kemudian burung garuda itu pergi meninggalkan Ki Buyut; Beji, terbang mengangkasa.
Setelah beberapa hari perjalanan, akhimya sampailah dia di rumah. Ketika itulah Ki Buyut Beji terkejut karena istrinya yang berasal dari bangsa jin sudah tidak ada lagi. Walau sudah mencari kemana ­mana, tapi tidak bertemu juga.
Dalam keadaan bingung, Ki Buyut Beji teringat pada wasiat ayahandanya. Sabelum bepergian, Ki Terumbu telah mengingatkan Ki Buyut Beji untuk menyembunyikan kunci lumbung padi tempat pakaian asli jin wanita itu disembunyikan olehnya. Ki Buyut Beji sudah melaksanakan wasiat, Sayangnya kunci lumbung tersebut dia dititipkan ke penjaga rumahnya yang bernarna Ki Besus.
Ingat akan hal ini, dia pun segera mernanggil Ki Besus untuk diinterogasi perihal hilangnya sang istri:
“Ki, kunci lumbung sudah kutitipkan kepadamu dan tidak ada satu orang pun yang boleh meminjam kunci tersebut termasuk istriku. Tapi mengapa istriku tiba-tiba menghilang? Apa dia telah menemukan bajunya? Lalu dari mana dia mendapatkan kuncinya kalau tidak dari Ki Besus sendiri?” Tanyanya kepada abdi setianya itu.
“Maafkan hamba, Raden! Hamba memang salah Hamba sudah mematuhi perintah untuk tidak memberikan kunci, lumbung kepada siapapun termasuk istri Raden. Tapi hamba tertidur karena mengantuk sekali. Rupanya, pada saat itulah istri Raden mengambil kunci lumbung itu,” jawab Ki Besus.
“Apakah kau yakin dia yang mengambilnya?” Desak Ki Buyut Beji. “Hamba yakin, Raden!”Tandas Ki Besus: “Karena waktu itu tidak ada orang lain selain istri Raden sendiri. Saat saya terbangun dari tidur, saya langsung ingat kunci itu. Lalu saya lihat kunci itu telah tiada. Maka saya lari ke tempat lumbung padi, dan ternyata pintu lumbung telah terbuka. Saya pun mencari kemana-mana istri Raden, tapi tidak menemukannya. Maafkan dan ampunilah hamba,.Raden,” jelas Ki Besus penuh penyesalan.
Ki Buyut Beji memaafkan kekhilafan Ki Besus: “Sudahlah kalau demikian. Aku akan mencarinya sendiri,” katanya dengan hati yang masygul.
Ketika dalam keadaan bingung, Ki Buyut Beji teringat akan burung garuda yang pemah dihidupkannya kembali dari kematian berkat izin Allah SWT. Bukankah burung itu pemah berkata pada dirinya, bahwa bila dia membutuhkan bantuannya maka tinggal sebut namanya sambil menghentakkan kaki ke tanah tiga kali?
Maka, Ki Buyut Beji mamanggil burung garuda tersebut dengan cara tadi. Memang, tak lama kemudian burung itu datang.
“Gerangan urusan apakah yang membuat Ki Buyut memanggil hamba? Tanya sang garuda.
“Wahai burung garuda, bawalah aku ke istana jin. Aku yakin kau dapat membawaku kesana!” Pinta Ki Buyut Beji.
Burung garuda itupun mengangguk, tanda menyanggupi permintaan Ki Buyut Beji.
Maka, Ki Buyut Beji menaiki punggung burung itu. Si burung itupun membawa Ki Buyut Beji ke alam jin. Sesampai di gerbang istana jin, Ki Buyut Beji di tahan oleh penjaga istana tersebut. Menurut penjaga istana jin, golongan manusia tidak diperkenankan masuk ke dalam istana mereka. Tapi Ki Buyut Beji tetap bersikeras untuk masuk ke dalam istana jin dengan alasan ingin mencari istrinya yang berasal dan golongan jin.
Setelah terjadi debat, penjaga istana jin itupun meminta Ki Buyut Beji menunggu di depan gerbang istana; karena dia akan menghadap kepada penguasa istana jin tersebut lebih dahulu.
Tak lama kemudian penjaga istana jn itu kembali lagi ke tempat Ki Buyut Beji menunggu. Menurut penjaga istana bahwa raja penguasa istana jin itu memberi beberapa syarat kepada Ki Buyut Beji agar dapat membawa istrinya kembali ke dunia.
“Katakanlah apa saja.persyaratan yang diminta oleh Rajamu itu!” Pinta Ki Buyut Beji.
Sang penjaga istana jin akhimya memberitahukan syarat-syarat dimaksud. Persyaratan pertama adalah, Ki Buyut harus mengambil air dari alam manusia dan membawanya ke istana jin dengan keranjang yang bagian bawahnya berlubang. Kemudian keranjang itu diberikan oleh penjaga istana jin ke Ki Buyut Beji.
Sejenak Ki Buyut Beji berpikir, bagaimana caranya membawa air dengan keranjang yang berlubang di bawahnya? Lalu, dia teringat akan belut putih yang telah ditolongnya. Maka, Ki Buyut Beji memanggil belut putih itu untuk datang ke tempatnya.
Setelah memanggil si belut, makhluk itu pun datang dan melilit bagian bawah keranjang yang berlubang tersebut, sehingga Ki Buyut Beji dapat membawa air dari alam manusia ke alam jin
Setelah menjalani persyaratan pertama, penjaga tersebut memberikan persyaratan kedua, yaitu Ki Buyut Beji harus mencari sendiri lokasi tempat.dimana istrinya berada. Ki Buyut Beji kebingungan untuk mencari lokasi istrinya berada, berhubung istana jin itu terdiri dari ratusan lantai dan tingkatan. Dalam kebingungan inilah Ki Buyut Beji pun. teringat dengan burung dara yang pernah di tolongnya. Lalu, dia pun memanggil burung dara dengan menghentakkan kakinya ke tanah.
Tak lama kemudian burung dara itu pun datang: Ki Buyut Beji memberikan perintah untuk mencari lokasi keberadaan istrinya.. Burung dara pun segera terbang melewati lantai demi lantai kerajaan di alam jin. Sampai akhirya si burung dara menemukan lokasi tempat istri Ki Buyut Beji berada. Kemudian, burung dara itupun melapor kepada Ki Buyut Beji. Ki Buyut Beji pun menunggang burung garuda terbang menuju lantai tempat istrinya berada. Sesampai di sana betapa terkejutnya Ki Buyut Beji; karena di tempat tersebut terdapat ribuan jin wanita yang berwajah serupa.
Karena kebingungan menentukan mana istrinya, Ki Buyut Beji pun memanggil lalat besar yang pernah ditolongnya, dan memerintahkan untuk mencari istrinya di antara ribuan jin wanita yang serupa itu.
Si lalat pun menjalankan tugasnya dengan baik, dan akhimya dia hinggap di pipi salah satu wanita jin, yaitu istri dari Ki Buyut Beji.
Setelah menemukan istrinya, Ki Buyut Beji diperbolehkan membawanya pulang ke alam manusia. Di alam manusia mereka hidup normal sebagai sepasang suami istri manusia. Mereka dikaruaniai tiga orang anak yang bemama Tanjung Anom, Kudup Melati dan Dewi Rasa
Syahdan, keturunan Ki Buyut Beji rata-rata memiliki kesaktian dan ilmu, sifatnya pun terpelihara hingga sekarang. Mereka berada terutama di Kampung Terumbu dan sekitarnya, seperti: di Kasemen, Kabupaten Serang Banten. Beberapa keturunan Ki Buyut Beji yang memiliki kesaktian luar biasa, adalah:
1. Nyi Jong; yang memiliki kerudung sakti hasil ritualnya. Khasiat kerudung sakti itu bila diikat kepohon, maka, di sekitamya akan terlihat lautan darah berwama merah. Suatu saat kompeni Belanda hendak menyerbu_ Kampung Terumbu. Maka oleh Nyi Jong kerudung tersebut diikatkan di pohon, akibatnya, seketika itu Kampung Terumbu pun terlihat berubah bagai lautan darah. Belanda pun tidak berani masuk ke kampung itu dan segera meninggalkannya.
2. Nyi Audah, memiliki usia yang panjang hingga berumur 300 tahun.
3.H. Buang memiliki kesaktian mengalahkan Siluman Harimau yang sakti. Dikisahkan, waktu itu di benteng Jakarta (lapangan Banteng sekarang­-Pen) dihuni oleh Siluman Harimau yang sakti dan ganas. Bila Kompeni Belanda melewati daerah tersebut pasti diterkam mati. Akhimya pihak Belanda mengadakan sayembara: Barang siapa yang dapat membunuh Siluman Harimau itu maka akan dihadiahi tanah sepuluh hektar. Konon, banyak pendekar yang mengikuti sayembara itu namun di antara mereka banyak. yang tewas dan tidak mampu mengalahkan Siluman Harimau tersebut. Maka, majulah H. Buang yang berperawakan kecil dan bila dilihat seperti orang yang lemah. Pada awalnya Belanda tidak percaya bahwa H. Buang akan mampu mengikuti sayembara itu, namun H. Buang tetap ingin mengikuti sayembara tersebut. Akhimya Belanda pun memperbolehkan H. Buang untuk bertarung dengan Siluman Harimau itu.
Maka, terjadilah perang tanding adu kesaktian di antara keduanya yang akhimya H. Buang dapat membunuh Siluman Harimau itu.. Atas kemenangannya Belanda menepati janji dengan menghadiahi tanah seluas sepuluh hektar kepada H. Buang
Demikianlah kisah Ki Buyut Beji, seorang waliyulloh dari Banten dan sekarang makamnya terdapat di Serang, Banten. Kisahnya memang bagaikan serangkaian legenda. Namun, benarkah semua itu hanyalah rangkaian legenda? Hanya Allah SWT yang tahu segalanya.



Kerajaan Jin Pulomas Indramayu


(boleh percaya boleh tidak )
Seandainya sebagian dinding istana Pulomas itu runtuh lalu masuk ke muara Cimanuk, niscaya bakal muncul areal pendulangan emas terbesar di seluruh jagat. Dengan runtuhnya dinding istana itu maka seisi muara bakal mengandung emas melebihi kandungan lumpur emas di sungai Musi, Kalimantan. Bahkan konon akan lebih besar dari hasil penambangan di Irianjaya.

Sayangnya, dinding istana yang terbuat dari emas itu sangat kokoh, dan istana itupun adanya hanya di alam gaib Pulomas. Di alam manusia, Pulomas hanya berupa rawa-rawa yang bersisian dengan muara Laut Jawa, persisnya berada di Kampung Pulomas, Desa Centigi Sawah, Kecamatan Centigi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Di atas rawa-rawa seluas puluhan hektare itu, menurut terawangan gaib, berdiri kompleks istana dengan bahan terbuat dari emas murni.

Kerajaan dengan keraton sangat megah itu sampai saat ini dipimpin oleh sesosok raja jin sangat sakti bergelar Raden Werdinata, dengan Mahapatihnya yang juga cukup tersohor yakni Mahapatih Jongkara. Sang rajua juga dibantu Panglima Perang bergelar Panglima Kalasrenggi.

Diceritakan oleh juru kunci Kampung Pulomas yang akrab disapa Wak Cartim, dibandingkan raja-raja lain yang menguasai alam gaib, Raja Pulomas tergolong paling tinggi ilmu kadigdayaannya. Alam gaib terbagi dua wilayah, yakni wilayah atas bumi dan di bawah laut. Alam gaib bawah laut dikuasai Nyi Ratu Roro Kidul untuk wilayah Pantai Selatan, sedangkan Pantai Utara dikuasai Nyi Ratu Nawangwulan.

“Kesaktian Raden Werdinata sempat tercatat dalam sejarah berdirinya daerah Kabupaten Indramayu,” ungkap Wak Cartim.

Dikisahkan, semasa Indramayu masih belum punya nama serta masih berupa hutan belantara, singgah seorang kesatria yang sedang mengemban tugas besar. Kesatria itu berasal dari Desa Banyu Urip, Kecamatan Banyu Urip, Kabupaten Bagelen, Jawa Tengah, bergelar Raden Wiralodra.

Kesatria berdarah biru dari Kerajaan Majapahit itu mengemban tugas membuka hutan belantara di lembah Sungai Cimanuk. Untuk menjalankan tugas dari leluhurnya, dia ditemani seorang punakawan atau pembantu yang sangat setia serta sakti bernama Ki Tinggil.

Selama tiga tahun lebih keduanya berjalan kaki dari Bagelen, Jawa Tengah dengan tujuan hutan belantara lembah Sungai Cimanuk. Tetapi, karena ketidaktahuan, mereka kebablasan sampai ke hutan lembah Sungai Citarum, Kabupaten Karawang. Berdasarkan keterangan Ki Sidum seorang manusia kuno sangat sakti dari Kerajaan Pajajaran, Raden Wiralodra dan punakawannya menyadari kalau perjalanannya itu kebablasan.

Melalui perjuangan keras serta mengikuti binatang peliharaan pemberian Ki Sidum yang berupa seekor Kijang Kencana, akhirnya sampai juga mereka ke hutan di lembah Sungai Cimanuk. Tiga bulan membabat hutan di lembah sungai, halangan pun datang. Ternyata di hulu Sungai Cimanuk ada kerajaan jin yang membawahi raja-raja kecil di alam gaib sepanjang aliran sungai sejak Kabupaten Sumedang hingga ke muara Laut Jawa pantai utara Indramayu.

Maharaja jin di hulu sungai itu bernama Budipaksa, yang didampingi seorang mahapatih bernama Bujarawis. Maharaja Budipaksa ini membawahi raja-raja kecil, di antaranya Kerajaan Tunjungbong yang dipimpin Kalacungkring, Kerajaan Pulomas yang dipimpin Raden Werdinata, dan kerajaan-kerajaan jin lainnya sampai tercatat sebanyak 12 kerajaan.

Kehadiran Raden Wiralodra di hutan lembah Sungai Cimanuk membuat gerah bahkan menciptakan teror menakutkan di kalangan bangsa jin dan makhluk halus lainnya yang menetap di lembah sungai. Atas laporan teliksandi, Mahapatih Bujarawis mengadukannya ke Maharaja Budipaksa. Mendengar pengaduan dari mahapatihnya, Maharaja Budipaksa marah besar. Tanpa buang waktu, Maharaja Budipaksa didampingi Mahapatih Bujarawis menyatroni Raden Wiralodra yang sedang membabat hutan didampingi Ki Tinggil.

Diawali perdebatan, terjadilah pertarungan secara kesatria di lembah Sungai Cimanuk. Maharaja Budipaksa berhadapan dengan Raden Wiralodra, sementara Mahapatih Bujarawis berhadapan dengan Ki Tinggil.

Konon, pertarungan dua makhluk berbeda alam itu berlangsung selama dua bulan. Karuan hal ini membuat penduduk gaib di tempat itu bubar ketakutan.

Berkat kesaktian Raden Wiralodra, Maharaja Budipaksa berhasil dilumpuhkan dan dikurung di dasar muara Sungai Cimanuk. Dikisahkan, sebelum dilumpuhkan, Maharaja Budipaksa memerintahkan Mahapatih Bujarawis supaya meminta bantuan para raja kecil taklukannya. Namun, sepuluh raja taklukan Maharaja Budipaksa beserta mahapatihnya dengangampangnya dilumpuhkan oleh Raden Wiralodra dan Ki Tinggil. Hanya Raden Werdinata yang masih bertahan. Dia bertarung melawan Raden Wiralodra, sementara Mahapatih Jongkara maupun Panglima Kalasrenggi kabur dihajar ilmu pamungkas Ki Tinggil.

Karena punya kesaktian seimbang, pertarungan antara Raden Werdinata dengan Raden Wiralodra memakan waktu 11 bulan. Senjata andalan Raden Wiralodra berupa Cakrabaswara yang telah melumpuhkan Maharaja Budipaksa ternyata mampu diatasi Raden Werdinata dengan menggunakan pusaka berupa tameng bernama Kopyahwaring, pusaka turun temurun Kerajaan Pulomas.
Sebelum ada yang jatuh korban, muncul Kalacungkring, penguasa gaib Kerajaan Tunjungbong. 
Kalacungkring menyarankan pada Raden Werdinata supaya menghentikan pertarungan dan sebaiknya menjalin persaudaraan dengan Raden Wiralodra. Selain dengan dalih Maharaja Budipaksa sudah dikurung di dasar muara Cimanuk, alasan yang paling utama adalah karena ketakutan bilamana leluhur Raden Wiralodra tersinggung. Jika manusia-manusia kuno Majapahit setingkat Ki Sidum murka, niscaya kerajaan alam gaib di sepanjang lembah Sungai Cimanuk dibuat musnah untuk selama-lamanya.

Atas saran Kalacungkring, Raden Werdinata meminta lawannya agar menyudahi pertarungan dan mengajak mengikat tali persaudaraan hingga ke anak cucu. Sebagai pengikat persaudaraan, Raden Werdinata menyerahkan putri kesayangannya bergelar Putri Inten untuk diperistri Raden Wiralodra.
Setelah perdamaian itu, dengan dibantu para prajurit dan penduduk Pulomas, tugas mendirikan kerajaan di lembah Sungai Cimanuk lebih cepat selesai, dan Raden Wiralodra tercatat menjadi pemimpin pertama kerajaan di lembah sungai tersebut, yang hingga kini bernama Kabupaten Indramayu.

Sebagai bangsa jin yang diberi umur panjang, meski Raden Wiralodra telah wafat dan digantikan keturunannya bahkan sampai sekarang ini, Raden Werdinata masih kokoh memimpin kerajaan Pulomas didampingi Mahapatih Jongkara. Sedangkan Panglima Kalasrenggi, setelah kabur dari hadapan Ki Tinggil kini menjadi pemimpin raja kecil di Rawabolang, masuk Desa Jatisura, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu.

Seiring perubahan zaman, ikatan persaudaraan antara penduduk gaib Kerajaan Pulomas dengan penduduk Kabupaten Indramayu mulai menyimpang dari makna persaudaraan yang sejati. Penduduk Kerajaan Pulomas siap membantu berbagai problem terkait soal ekonomi yang dialami manusia penduduk Kabupaten Indramayu dengan kompensasi, manusia bersangkutan, sesuai dengan perjanjian menjadi budak di alam gaib Pulomas hingga hari khiamat.

Seiring banyaknya penduduk bangsa manusia yang terjerumus ke dalam perjanjian jiwa, lambat laun Pulomas dikenal sebagai tempat pesugihan. Keberadaan Pulomas sebagai tempat pesugihan, belakangan gaungnya sudah meluas, sehingga orang yang mengadakan laku ritual pesugihan di Pulomas bukan sebatas warga Indramayu, melainkan datang dari berbagai daerah di Pulau Jawa bahkan hingga ke Sumatera.

Wak Cartim selaku juru kunci memang bukan orang yang dibekali wawasan kehumasan, sehingga dia tidak sekalipun menyediakan buku tamu di kediamannya. Tapi, dari pengakuan para tamu yang minta dibantu melakukan ritual pesugihan, mereka banyak yang datang dari luar Kabupaten Indramayu, bahkan dari luar Pulau Jawa.

Rumah juru kunci pesugihan Pulomas yang sangat tersohor itu, sulit diterima akal sehat. Awalnya Misteri membayangkan rumah Wak Cartim semegah Villa di Gunung Guci, namun ternyata hanya berupa gubuk berdinding bilik anyaman bambu beratap welit yang terbuat dari daun bambu. Di dalamnya hanya terdapat ruang tamu, kamar tidur dan kamar dapur merangkap kamar mandi.

Umur Wak Cartim mungkin di atas 60 tahun. Dia hanya seorang diri menempati rumah gubuk yang berada di bawah rindangnya pohon Asam Jawa itu. Di sekelilingnya dipagari hutan mangrove. Jarak dengan pemukiman penduduk Desa Centigi Sawah sekitar 5 kilometer yang hanya dihubungkan jalan setapak tanpa koral.

Jika siang hari, untuk sampai di rumah juru kunci bisa memanfaatkan jasa ojeg dengan ongkos Rp. 5.000. Jika ada keinginan untuk refreshing, disarankan jalan kaki sambil menyusuri tepian pantai. Meskipun disana-sini sudah tercipta bibir pantai curam akibat abrasi, namun tetap masih menyisakan panorama khas pantai yang indah untuk dinikmati.

Tapi jika lepas Maghrib, jangankan dibayar duakali lipat, dibayar seratus ribu pun tidak bakalan ada tukang ojeg yang bersedia mengantar ke rumah Wak Cartim. Paling disarankan menginap di rumah penduduk untuk berangkat keesokan paginya. Memang tidak sulit mendapatkan penginapan di tempat itu. Nyaris setiap rumah penduduk di desa itu dengan senang hati disinggahi dengan membayar sewa inap sebesar Rp. 50.000 semalam. Dengan sewa sebesar itu malamnya mendapatkan jamuan kopi hangat berikut cemilan khas kampung, dan keesokan paginya seusai mandi mendapatkan segelas kopi disusul sarapan berupa longsong. Sehingga jika ditotal, sewa 50.000 benar-benar murah meriah.
Namun ternyata tidak gampang mengadakan ritual pesugihan di Pulomas. Selama seharian, Wak Cartim tak bosan-bosannya menasihati tamunya supaya mengurungkan rencananya yang jelas-jelas menyimpang dari syariat agama itu. Jika seharian dinasihati tetap ngotot, maka malamnya baru bisa digelar ritual gaib dipandu langsung Wak Cartim.

Ada juga bocoran dari Wak Cartim, khusus bagi orang yang lahir hari Jumat, jangan coba-coba mengadakan ritual, karena dijamin ditolak penduduk gaib Pulomas.

Tidak aneh ketika menyebutkan nama Misteri yang memang lahir hari Jumat karena berawal sukukata “Dha”, tanpa banyak dalih langsung ditolak. Tapi, karena maksud singgah di tempat itu bukan untuk ritual pesugihan melainkan dalam rangka menghimpun bahan tulisan, dengan agak berat hati, Wak Cartim mengizinkan Misteri untuk bermalam di rumah gubuk miliknya.

Malamnya, sejak lepas Isya, Wak Cartim langsung mengajak Misteri bincang-bincang di ruang tamu. Di ruangan ini hanya tersedia tikar pandan dan bantal kapuk randu. Tak ada perangkat meubeler, akibatnya, mesti duduk bersila di lantai tanah yang dilapisi tikar.

Ada yang aneh, meski rumah berada di sekitar rawa dengan dinding bilik dari anyaman bambu, namun di ruang tamu ini tidak terdengar dengungan nyamuk walau satu ekorpun.

Dalam perbincangan, Wak Cartim lebih mendominasi. Banyak sekali yang diceritakan, mulai soal tamu-tamu yang seluruhnya dari kalangan orang-orang gagal dan putus asa, hingga petikan sejarah kerajaan gaib Pulomas seperti yang sudah dipaparkan di muka.

“Karena umurnya mendekati seribu tahun, Gusti Raden Werdinata kini lebih banyak berada di ruang kholwat daripada mengurusi pemerintahan. Beliau lebih banyak berdzikir kepada Allah daripada urusan dunia,” kata Wak Cartim.

Mendengar penuturan kali ini, Misteri dibuat heran. Keheranan di benak Misteri rupanya bisa terbaca. Wak Cartim langsung menjelaskan, semasa masih di bawah pengaruh Maharaja Budipaksa, Raden Werdinata tidak memiliki agama apapun kecuali adat leluhur. Tapi, sejak resmi mengikat persaudaraan  dengan Raden Wiralodra, dia menyatakan diri masuk ajaran agama Islam.
Sebagai Raja muslim yang taat, Raden Werdinata tidak pernah dan tidak akan menyesatkan manusia apalagi dari keturunan Raden Wiralodra. Lalu siapa yang mengadakan ikatan perjanjian pesugihan dengan bangsa manusia?

“Sama halnya bangsa manusia, bangsa jin di Pulomas pun ada yang menganut Islam dan agama lainnya, juga ada yang melestarikan adat leluhur. Ada penduduk yang berbudi luhur ada juga yang berperangai jahat. Nah, penduduk Pulomas yang berperangai jahat inilah yang selama ini menangani proses perjanjian pesugihan dengan manusia,” urai Wak Cartim.
Logikanya, mustahil seorang raja mau melayani urusan manusia dari kalangan rakyat biasa. Selain tidak pernah menyesatkan, Raden Werdinata juga konsisten dengan ikatan persaudaraan dengan Raden Wiralodra meski saudaranya itu sudah wafat sejak ratusan tahun silam. Buktinya, dalam dzikirnya, suatu malam Raden Werdinata mendapat petunjuk bahwa daerah Indramayu bakal diterjang ombak pemusnah (Tsunami). Tanpa banyak pertimbangan, dia menyudahi dzikirnya lalu mendatangi penguasa Pantai Utara.

Di hadapan Nyi Ratu Nawangwulan, Raden Werdinata meminta supaya ombak pemusnah itu jangan sampai menerjang penduduk Indramayu. Jika ombak pemusnah itu sampai menerjang, dia sepakat untuk bertarung.

Meskipun sadar ilmu Nyi Ratu Nawangwulan jauh lebih tinggi, demi ikatan persaudaraan dengan Raden Wiralodra, dia rela mempertaruhkan nyawanya mati di tangan Nyi Ratu Nawangwulan.
“Untungnya Nyi Ratu Nawangwulan bersedia memenuhi permintaannya, sehingga ombak pemusnah itu urung menerjang Indramayu dan berputar menerjang daerah Pangandaran, Kabupaten Ciamis,” ungkap Wak Cartim, menutup kisahnya.
Menjelang tengah malam, Wak Cartim pamit untuk mengadakan ritual pribadi di kamar tidurnya, sementara Misteri disuruh tetap di ruang tamu dengan ditemani bantal kumal.
Seiring merembesnya bau buhur jin dari sela-sela dinding bilik kamar tidur, alam mimpi pun tersingkap dan Misteri tidur di ruang tamu yang lumayan sempit itu.

Mitos Asal-Usul Pantai “Watu Ulo” Jember-Jawa Timur



Masyarakat Jember menceritakan bahwa nama pantai Watu Ulo bermula dari kisah berikut. Pada zaman dahulu Ajisaka (baca: Ajisoko) datang ke tanh Jawa. Di Jawa, negeri Medang Kamula, ia mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan kesaktian kepada masyarakat. Saat mengajari murid-muridnya, ilmunya didengar ayam yang sedang mencari makan di bawah pondok perguruannya. Seharusnya, siapapun tidak boleh mendengar ajaran Ajisaka, selain murid yag sudah diijinkan. Karena mendengar matra-mantra yang diajarkan kepada muridya, seekor ayam itu mendadak bertelur yang amat besar, tidak seperti biasanya.
Saat telur itu dierami dan menetas, ternyata yang keluar dari cangkang telur bukan anak ayam, tetapi anak naga raksasa, yang mampu berbicara seperti manusia. Anak naga itu bicara terus, dan menanyakan siapa ayahnya. Oleh masyarakat setempat naga itu diberi tahu kalau ingin tahu siapa ayahnya, disuruh tanya ke rang sakti bernama Ajisaka. Lalu, anak naga itu mendatangi Ajisaka dan bertanya siapa ayahnya. Ajisaka tidak terkejut, lalu diberi tahulah anak naga itu bahwa sebenarnya anak naga itu memang anaknya yang tercipta dari telur ayam lewat mantra-mantra. Walaupun mengakui naga itu sebagai anaknya, Ajisaka tidak mengijinkan naga itu ikut dengannya. Ajisaka menyuruh anak naga itu bertapa di pantai laut selatan. Kemudian anak naga itu bertapa di pantai selatan.
Saat bertapa, naga itu sesekali bangun dari meditasi untuk makan binatang apa saja di sekitarnya. Ratusan tahun ia bertapa, badannya tambah besar. Badannya di Jember, kepalanya sampai Banyuwangi, dan ekornya memanjang sampai Jawa Tengah. Karena tubuhnya membesar akibatnya makanan di sekitarnya tidak cukup, maka sesekali naga itu mencari makan di tengah laut selatan.
Karena lamanya bertapa sampai badannya ditumbuhi lumut seperti kayu. Suatu hari, penduduk di sekitar pertapaan naga kehabisan kayu bakar. Penduduk menemukan kayu besar dan memanjang maka dipotonglah kayu itu. Saat dipotong kayu itu mengeluarkan getah seperti darah, sehingga semua penduduk terheran-heran tetapi penduduk tetap saja mengambilnya sebagai kayu bakar.
Sampai sekarang naga yang telah besar itu masih bertapa di pantai laut selatan, tetapi tubuhnya tidak lengkap lagi karena dipotong penduduk untuk kayu bakar, tinggal kepalanya ada di Banyuwangi, badannya di pantai selatan Jember, dan ekornya di Jawa Tengah. Bagian-bagian tubuh itu mengeras seperti batu, dan sampai sekarang masih bisa ditemukan batu-batu seperti sisik kulit ular di pantai selatan Jember. Oleh penduduk, pantai itu disebut pantai “Watu Ulo” (Batu Ular) karena batu-batunya tersusun seperti sisk kulit ular. Konon pada saatnya naga itu akan berubah menjadi manusia yang sakti dan akan menjadi pemipin dan penguasa di tanah Jawa atau Indonesia. (Dikumpulkan dan diceritakan ulang dari cerita masyarakat Jember dan sekitarnya)

VERSI LAIN :
Mitos versi lain :Konon, dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri yang bernama Aki dan Nini Sambi. Pasangan ini dikaruniai anak yang bernama Joko Samudera. Si ayah bekerja mencari kayu bakar di perbukitan di sekitar pantai, sedangkan si anak mencari ikan di laut. Di suatu hari, Aki serta Nini Sambi yang tengah mencari kayu bakar mendengar adanya suara tangisan bayi. Mereka lantas mencari sumber suara tersebut yang ternyata berasal dari seorang bayi laki-laki. Merasa tidak tega, Nini Sambi pun lantas jatuh kemudian dan merawat si bayi. Bayi ini kemudian diasuh dan diberi nama Marsudo.
Seiring waktu berlalu, kedua anak lelaki Aki dan Nini Sambi pun tumbuh dewasa. Mereka secara bergantian mencari ikan di laut. Suatu ketika Marsudo sedang mencari ikan, dia begitu kaget ketika mengangkat pancingnya dan yang didapatkannya adalah seekor ikan raksasa yang dapat berbicara. Ikan yang bernama Raja Mina itu pun ingin Marsudo melepaskan dirinya. Dan sebagai ganti, Raja Mina akan mengabulkan semua keinginannya. Marsudo lantas melepas ikan raksasa tersebut. Dengan rasa terima kasih, Raja Mina langsung berenang pergi. Akan tetapi, sesampaianya dia di rumah, Marsudo malah dimarahi oleh orang tuanya sebab melepaskan ikan yang sangat besar itu. Tidak tega saudaranya kena marah, Joko Samudera pun pergi memancing ke laut untuk menggantikan adiknya itu. Bukannya mendapatkan ikan, Joko Samudera malahan mendapatkan seekor ular laut raksasa. Ular tersebut mengamuk ketika kail pancing Joko Samudera telah melukai tubuhnya.
Joko Samudera dan Ular raksasa pun berduel sengit. Melihat kakaknya tengah berjibaku melawan ular raksasa, Marsudo pun memanggil Raja Mina yang sebelumnya dia selamatkan. Dia menagih janji Raja Mina untuk memenuhi permintaannya. Ia meminta Raja Mina memenangkan kakaknya dalam melawan ular raksasa itu. Raja Mina pun lantas memberi Marsudo cemeti (cambuk). Ikan yang dapat berbicara tersebut berpesan supaya Ia memukul tubuh ular raksasa itu dua kali, sehingga tubuh ular akan terbelah menjadi tiga. Pisahkanlah ketiga bagian tubuh ular itu ke 3 tempat, jadi tidak dapat bersatu kembali. Karena jika bersatu, ular tersebut akan hidup lagi. Ular tersebut pun lantas dapat ditaklukkan. Dan saat ini, di pinggir pantai Watu Ulo, terdapat gugusan batu yang seperti anatomi tubuh ular yang sangat besar. Panjang serta berlekuk, permukaannya pun seperti sisik. Menarikbukan? Itulah Legenda dibalik wisata pantai Watu ulo yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.



KABUPATEN WONOGIRI



Pada zaman Kerajaan Demak ada seorang pertapa sakti bernama Ki Kesdik Wacana. Dia tinggal menyendiri di salah satu gua yang termasuk dalam jajaran Pegunungan Seribu. Pegunungan ini dikelilingi hutan yang penuh dengan pepohonan lebat dan alam yang indah. Tidak heran jika penguasa Demak pada waktu itu menjadikan sebagai hutan wisata raja dan tempat perburuan binatang.
Pada waktu-waktu tertentu, datanglah rombongan raja dengan pengiring dan senopatinya. Mereka berburu binatang, terutama Rusa. Sebagian hasil dari perburuan itu ada yang dihabiskan di tempat dan sebagian lagi biasanya dibawa kembali ke istana. Bekas tempat pesta pora itu pada akhirnya menjadi sebuah desa yang sekarang dinamakan Desa Senang, yang berarti tempat untuk bersenang-senang. Sampai sekarang desa itu masih ada.
Pada suatu ketika Raja Demak mengirimkan seorang utusan bernama Raden Panji untuk menemui pertapa Ki Kesdik Wacana. Melalui utusannya, Raja meminta kepada Ki Kesdik Wacana untuk membawa beberapa ekor rusa untuk dijadikan sebagai binatang peliharaan di Istananya. Ki Kesdik Wacana menyanggupi permintaan Raja.
Dengan kesaktiannya Ki Kesdik Wacana memasukkan rusa-rusa itu dalam bumbung, rongga pada ruas pohon bambu petung dan kemudian disumbat. Bumbung tersebut kemudian diserahkan kepada Raden Panji disertai dengan pesan khusus.
"Raden Panji, bumbung ini berisi rusa-rusa yang dikehendaki oleh sang Prabu. Sengaja aku masukkan ke dalam bumbung ini supaya Raden Panji mudah membawanya. Lagi pula perjalanan dari sini ke Keraton cukup jauh. Namu ingat pesanku, jangan coba-coba sekalipun membuka isi dari bumbung tersebut sampai bumbung tersebut telah ada di hadapan Raja."
"Terima kasih bapak pertapa, saya akan selalu ingat pesan itu" kata Raden Panji dengan penuh hormat.
Dalam perjalanan pulang kembali ke Demak, pikiran Raden Panji dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan yang tidak bisa terjawab oleh Raden Panji sendiri. Menurut dia tidaklah masuk akal rusa-rusa yang diminta oleh sang Prabu dimasukkan ke bumbung ini. Ini sangat tidak logis.
Meskipun begitu, Raden Panji tetap ingat pesan Ki Kesdik Wacana untuk tidak membuka bumbung itu sampai di hadapan Raja. Raden Panji pun akhirnya membatalkan keinginannya untuk membuka bumbung tersebut.
Dalam perjalanan pulang, karena lelah Raden Panji singgah sebentar di sebuah hutan jati yang lebat. Saat melepas lelah, pandangan Raden Panji terus memandang bumbung tersebut dengan perasaan heran. Karena terus memandang bumbung tersebut, akhirnya Raden Panji membuka bumbung tersebut untuk mengetahui isinya.
Namun ketika sumbat bumbung dibuka, Raden Panji kaget bukan kepalang melihat kejadian aneh. Dalam keadaaan yang masih terbengong, tiba-tiba dari bumbung tersebut keluar hewan kecil yang makin lama makin membesar. Ternyata hewan-hewan itu adalah rusa-rusa yang berjumlah 16 ekor atau 8 pasang. Dan kesemuanya dengan cepat segera masuk ke hutan kembali.
Raden Panji yang segera sadar dari kekagetannya itu, langsung segera berlari cepat ke hutan untuk mengejar rusa-rusa itu sampai kopiahnya jatuh ke tanah. Namun beliau tidak menghiraukan kejadian tersebut. Walau usahanya untuk mengejar rusa-rusa itu sia-sia.
Bukan main sedih dan menyesal hati Raden Panji akibat kecerobohannya itu. Raden Panji hanya bisa jatuh tertunduk malu dan lesu. Tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Mau balik ke Demak takut terken murka Raja. Mau kembali tempat pertapaan Ki Kesdik Wacana takut terkena makian.
Untunglah Ki Kesdik Wacana yang sakti dapat segera mengetahui peristiwa itu. Oleh karena itu Ki Kesdik segera menyusulnya. Dalam perjalanan menyusul Raden Panji, Ki Kesdik sempat menemukan kopiah Raden Panji yang terjatuh. Pertapa sakti itu pun berkata, wahai bumi dan langit saksikanlah bahwa tempat ini sejak saat ini aku beri nama Wana Kethu. Jadilah tempat itu sampai sekarang bernama Wana Kethu. 'Wana' berarti hutan dan 'Kethu' artinya kopiah.
Tidak berapa lama Ki Kesdik Wacana segera menemukan tempat Raden Panji. Melihat kehadiran Ki Kesdik Wacana, Raden Panji pun sangat kaget.
"Mohon ampun bapak, hamba telah berbuat lancang membuka sumbat bumbung itu dan mengakibatkan hewan-hewan yang ada di dalam bumbung itu keluar semua. Sekarang hamba pasrah menerima hukuman dari bapak pertapa" kata Raden Panji bersedih.
Mendengar pengakuan Raden Panji, sang pertapa merasa kasihan tetapi yang bersalah tetap harus menerima hukuman.
"Raden Panji, ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu adalah utusan raja yang telah diberi amanat. Sayang sekali kamu tidak dapat melaksanakan amanat itu. Oleh karena itu kamu tetap mendapat hukuman. Mulai sekarang, janganlah kamu berwujud manusia, tetapi jadilah kamu seekor Rusa Wulung penunggu hutan jati ini" kata Bapak Pertapa
Begitu selesai ucapan bapak pertapa itu, seketika tiba-tiba dunia menjadi gelap gulita dan di langit terdengar suara petir menyambar-nyambar. Semua seakan menjadi saksi atas segala ucapan bapak pertapa.
Memang benar keadaanya. Secara mendadak Raden Panji yang asalnya manusia berubah menjadi rusa jantan yang sangat gagah dengan bulu wulungnya. Raden Panji yang sudah berubah menjadi rusa itu menangis dan bersimpuh di hadapan pertapa sakti tersebut.
"Hukuman ini terlampau berat bagi Hamba, Bapak. Mohon bapak sudi mencabutnya," ratap rusa wulung penjelmaan Raden Panji.
Namun penyeselana tinggal penyesalan, Raden Panji harus mengalami kehidupan baru sebagai pemimpin pasangan rusa yang dahulu dilepasnya di Wana Kethu.
Sesudah peristiwa di Wana Kethu itu, Ki Kesdik Wacana naik ke atas bukit kecil tak jauh dari situ. Sesampai di puncak bukit itu, ia berhenti sesaat untuk mengagumi keindahahan alam di bawahnya.
"Bukit ini begitu indah. Besok kalau ada keadaan zama sudah ramai, bukit ini aku namai dengan Gunung Giri. sedangkan sungai yang mengalir dibawahnya aku namakan Sungai Wahyu. Sekarang nama sungai ini adalah Bengawan Solo." kata Ki Kesdik Wacana
Pada suatu ketika dalam kesempatan yang lain, Sunan Giri dalam pengembaraanya sampai di tempat yang dahulu dikunjungi Ki Kesdik Wacana. Sama dengan Ki Kesdik Wacana, Sunan Giri juga mengagumi keindahan alam hutan yang sangat luas dengan alamnya yang berbukit-bukit. Sunan Giri pun berkata "Besok kalau ada keramaian zaman, tempat ini aku namai Wonogiri".
Wono atau Wana berarti 'hutan', sedangkan Giri berarti 'Gunung'. Demikianlah tempat yang berhutan lebat dan bergunung-gunung itu sampai sekarang bernama Wonogiri yang terletak di Propinsi Jawa Tengah.

HUTAN DONOLOYO
Padamulanya Donoloyo adalah nama sebuah hutan yang berada di tepian hulu Bengawan Solo. Kemudian nama inilah yang digunakan oleh masarakat sekitar hutan itu untuk menyebut seorang laki-laki yang terkenal santun dan bijak lagi sakti yang kemudian babat alas (membabat hutan) untuk ia diami kelak bersama keluarganya. Orang-orang sekitar hutan itu menyebutnya Ki Ageng Donoloyo.
Ki Ageng (sebutan untuk orang yang dihormati di suatu desa) Donoloyo adalah seorang laskar Majapahit yang tertinggal dari pasukannya di daerah Wonogiri sebelah timur, tepatnya di desa Sambirejo kecamatan Slogohimo sehingga ia memutuskan untuk tidak kembali dan menetap di wilayah itu (ada yang berpendapat hal ini diperkirakan oleh pengaruh raja mereka, Airlangga yang memutuskan meninggalkan kerajaan untuk mencari keabadian dengan bertapa, namun ada pula versi lain yang mengatakan bahwa mereka berdua tidak pulang ke Majapahit akibat terjadi peperangan saudara dan desakan dari kerajaan Islam Demak).
(Menurut versi lain pula banyak orang mengatakan bahwa Ki Ageng masih kerabat dekat dengan Airlangga, penguasa Majapahit ketika itu yang mana kemudian memberikan sebuah wilayah untuk dikembangkan menjadi sebuah desa layaknya Gajah Mada).
Ketika tertinggal ia tidak sendiri melainkan ia bersama seorang laskar lain yang kelak dinamakan oleh orang-orang sekitarnya dengan nama Ki Ageng Sukoboyo. Namun kemudian mereka memutuskan untuk berpisah mencari wilayah sendiri-sendiri untuk mereka jadikan tempat menepi dan kelak pada akhirnya berkeluarga. Ki Ageng Donoloyo menuju ke selatan sementara Ki Ageng Sukoboyo menuju ke utara di hutan Sukoboyo setelah terjadi pertengkaran kecil di tengah-tengah wilayah yang kemudian kelak mereka diami. Ki Ageng Sukoboyo mempunyai watak yang keras sementara Ki Ageng Donoloyo sebaliknya.
Setelah beberapa tahun kemudian Ki Ageng Donoloyo dicari oleh seorang kakak perempuannya. Hingga pada akhirnya suatu saat kakak Ki Ageng Donoloyo itu dipersunting oleh Ki Ageng Sukoboyo. Hal inilah yang kemudian mempererat kembali ikatan di antara keduanya meski pada mulanya mereka sempat berseteru memperebutkan tempat menepi.
Masalah kedua pun muncul (kelak masalah ini merenggangkan kembali persaudaraan mereka) ketika Ki Ageng Donoloyo ingin mengunjungi kakak perempuannya setelah sekian lama tidak bertemu. Kejadian ini adalah ketika Ki Ageng Donoloyo hendak pulang ke daerahnya, ia terpaku pada sekitar kediaman Ki Ageng Sukoboyo yang tumbuh beberapa pohon Jati besar, tinggi menjulang. Ia tidak tahu sebelumnya kalau di sekitar rumah kakak iparnya itu tumbuh pohon yang belum ia temui selama hidupnya. Pohon itu seperti mengeluarkan sinar. Terbersit kemudian dalam hatinya untuk bertanya pohon apakah itu kepada Ki Ageng Sukoboyo. Kamudian dijelaskan bahwa pohon itu bernama pohon “jati” pohon yang memiliki batang kayu berkualitas paling baik (sejatinya kayu) di Kedhuang Ombo (tanah Jawa), dan tidak sembarang orang boleh menanamnya. Mendengar penjelasan itu Ki Ageng Donoloyo sangat tertarik untuk meminta klentheng (biji kayu jati) untuk ia tanam di daerahnya. Namun ketika ia mengutarakan niatnya itu, justru ia mendapatkan tolakan. Ki Ageng Sukoboyo marah-marah tak terkira mendengar permintaan Ki Ageng Donoloyo. Namun dengan sabar Ki Ageng Donoloyo hanya menunduk dan diam mendapatkan semprotan marah kakak iparnya itu. Lantas ia pun berpamitan untuk kembali ke niatnya semula yakni pulang ke daerahnya (kelak disebut hutan Donoloyo).
Sesampainya di tengah perjalanan ia tercengang keget ketika kakak perempuannya (istri Ki Ageng Sukoboyo) meneriakinya dari belakang. Ia pun berhenti dan menoleh. Sang kakak menghampiri dan berkata bahwa ia telah mendengar percakapannya dengan Ki Ageng Sukoboyo dan juga permintaan tersebut. Sang kakak menyarankan agar ia satu purnama lagi kembali dan membawa tongkat dari bambu uluh (jenis bambu paling kecil yang biasa dipakai sebagai tempat membran terompet tahun baru) untuk menyembunyikan biji jati dengan cara menghunjamkan tongkat itu di atas klentheng / biji jati sehingga biji tersebut akan masuk dengan sendirinya. Sang kakak melarangnya untuk waktu dekat ia kembali lagi ke rumahnya sebab ia khawatir Ki Ageng Sukoboyo masih merasa tersinggung dan menyimpan marah dengan permintaan adiknya tempo hari.
Dan sampailah satu purnama itu, Ki Ageng Donoloyo akhirnya berhasil mencuri dua biji jati dari pekarangan Ki Ageng Sukoboyo meski ketika itu mereka berdua bersama-sama tampak asik berjalan-jalan sembari bercakap-cakap di bawah pohon jati kesayangan Ki Ageng Sukoboyo.
Meski berhasil mencuri dua biji klentheng dan merasa yakin jika Ki Ageng Sukoboyo tidak mengetahui tindakan culasnya ini ia masih saja gugup, dan hal ini membuatnya pulang dengan tergesa-gesa dan membuat sepasang kakinya sedikit berlari.
Sampailah kemudian ia di hutan Denok (sekarang desa Made). Ia beristirahat di bawah pohon bulu (semacam beringin) yang rindang. Di situlah kemudian satu biji terjatuh dan tumbuh besar dengan dililit pohon bulu (pohon jati berada tepat di tengah lilitan pohon bulu sehingga terlihat unik, tampak seperti pohon bulu yang merangkul pohon jati). Jati itu kemudian dinamakan jati Denok. Sementara satu biji kemudian ditanam di hutan Donoloyo yang kelak dinamakan Jati Cempurung, yang juga kemudian dipercayai digunakan sebagai soko guru pembangunan masjid Demak kali pertama. Jati Cempurung ini memiliki keunikan yakni sore ditanam paginya sudah tumbuh dengan berdaun dua. Maka tidak heran jika kemudian konon jati ini tumbuh dengan cepat dan besar sehingga bayang-bayangnya ketika pagi sampai di tengah alun-alun Demak.
Maka semenjak itulah ketika jati Cempurung sudah beranak-pinak Ki Ageng Donoloyo melarang warga sekitar hutan Donoloyo untuk membawa atau menjual pohon jati dari Donoloyo kepada orang-orang di utara jalan (sekarang jalan raya Wonogiri-Ponorogo yang dipercayai sebagai tempat pertengkaran pertama kali antara Ki Ageng Donoloyo dengan Ki Ageng Sukoboyo ketika berebut tempat untuk menepi) sebab hal itu akan berdampak kematian, kayu jati itu dengan sendirinya akan berubah menjadi jengges tenung (santhet) pada yang membawa (mengangkut) dan yang menjualnya.
Konon pula kemudian Jati yang berasal dari hutan Donoloyo semua memiliki ciri growong di tengah batangnya meskipun sedikit, sebab hal ini dikarenakan induknya (Jati Cempurung) adalah dari hasil mencuri. Selain itu keunikan lainnya adalah adanya suatu cerita yang mengatakan bahwa ketika keraton Surakarta membutuhkan dua batang pohon jati yang berasal dari hutan Donoloyo dapat kembali lagi ke asalnya setelah seorang ndalem (kerabat keraton) mencemoohnya. Jati itu kembali ke sisi hutan Donoloyo paling barat, tepatnya di desa Pandan (dan dua batang pohon jati itu sampai sekarang masih ada. Orang-orang mempercayai dua batang pohon jati yang tergeletak di pinggir sebuah sawah di desa Pandan itu adalah Jati yang kembali akibat dicemooh orang nDalem Keraton Surakarta).
Jati Cempurung dan Masjid Demak
Ki Ageng Donoloyo sangat takjub dengan pertumbuhan jati yang ditanamnya ini. Pohon jati itu tumbuh dengan luar biasa. Dengan waktu yang tidak lama pohon jati itu tumbuh besar menjulang tinggi. Pohon jati itu memberinya kebanggaan luar biasa. Setiap hari ia memandangnya sembari memanjakan burung perkutut putih kesukaanya sembari pula menghisap candu dengan pipa panjang yang dihisap dari samping bersama anak-anak dan istrinya (versi lain mengatakan bahwa Ki Ageng Donoloyo tidak beristri). Sesekali sembari menikmati pohon jati itu Ki Ageng menanggap ledhek mbarang (orkes keliling) jika kebetulan lewat.
Hingga pada akhirnya datanglah utusan Raden Patah dari kerajaan Demak menemui Ki Ageng Donoloyo untuk membeli pohon jati yang ditanamnya itu berapapun harganya. Ki Ageng Donoloyo pun memperbolehkannya, tapi ia tidak meminta apa-apa sebagai gantinya. Ia hanya meminta sebuah sarat “Lemah Kedhuang Ombo yen ono pagebluk njaluk kalis lan ojo kanggo papan peperangan : tanah Jawa ini jika ada paceklik maka segeralah bisa diatasi dan jangan dijadikan sebagai ajang peperangan.” Maka segeralah utusan itu ke Demak dan menyampaikan sarat Ki Ageng kepadanya. Maka Raden Patah pun menyanggupinya.
Raden Patah pun mengutus beberapa dari Wali Songo untuk menebang jati Cempurung. Sebelum menebang para wali itu berembug di sebuah desa mengenai penebangan hingga cara membawa kayu jati itu ke Demak sebab ukuran pohon jati yang luar biasa besarnya (sekarang desa tempat berembug para Wali itu dinamakan desa Pule kecamatan Jatisrono, yang berasal dari kata “Ngumpule” yang berarti berkumpul untuk berembug). Kemudian disepakatilah cara mengangkut Jati Cempurung itu setelah ditebang yakni dengan cara dihanyutkan di hulu sungai Bengawan Solo (tepat persis di belakang punden) ketika musim penghujan. Konon pula setelah Jati Cempurung itu ditebang batang paling ujung/ pucuk jatuh di sebuah desa di kecamatan Sidoarjo yang berjarak kurang lebih 18 km sehingga desa itu dinamakan desa Pucuk.
Setelah penebangan Jati Cempurung itulah menurut banyak orang kemudian Ki Ageng Donoloyo sudah tak tampak lagi di kediamannya. Banyak orang mempercayainya Ki Ageng telah moksa, hilang bersama raganya.
 
SEJARAH KABUPATEN WONOGIRI
Sejarah lahirnya pemerintahan di Wonogiri tidak terlepas dari peran Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyowo. Demikian pula mythos ataupun legenda di Wonogiri juga lebih banyak berlatar belakang perjuangan Pangeran Sambernyowo. Namun wilayah Wonogiri telah terdapat kebudayaan yang berkembang pada masa-masa sebelumnya.
A. MASA PRA SEJARAH Di Kabupaten Wonogiri terdapat berbagai bukti temuan artefact di beberapa goa di Kabupaten Wonogiri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa di wilayah Kabupaten Wonogiri pernah menjadi peradaban pada masa pra sejarah.
B. MASA KLASIK Di wilayah Wonogiri ditemukan Candi Bendo Kasur. Namun dari temuan ini-pun belum menggambarkan aliran agama. Hal tersebut dikarenakan kondisi candi yang sudah aus dan tinggal pondasi. Selain itu juga terdapat patung Ganesha. Patung Ganesha tersebut mampu menggambarkan bahwa Kabupaten Wonogiri pada masa klasik beragama Hindu Shiwa.
C. MASA ISLAM
a. Masa Kerajaan Demak Sejarah Wonogiri pada masa Islam muncul pada masa Kerajaan Demak. Pada tahun 1478 M merupakan pergantian Kadipaten Bintaro menjadi sebuah kasultanan yang bernama Kasultanan Demak Bintoro. Sejak Kerajaan Majapahit runtuh, maka banyak kadipaten-kadipaten kecil yang semula merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit akhirnya bergabung dengan Kasultanan Demak.
Seiring dengan berdirinya Kasultanan Demak, Raden Patah sebagai pemegang tampuk kepemimpinan menitahkan untuk membangun sebuah Masjid Agung yang digunakan untuk beribadah dan tempat pertemuan / silaturahmi. Dari sumber tradisional yang berupa cerita babad maupun legenda diketahui bahwa Masjid Agung Demak sangat berperan dalan sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Pulau Jawa, bahkan pengaruhnya terasa sampai di luar Pulau Jawa seperti Malaysia. Konon Masjid Agung Demak ini dibuat oleh para Wali yang tergabung dalam Wali Songo dan digunakan untuk tempat pertemuan saat membicarakan soal-soal keagamaan dan masalah Islam lainnya. Cerita legenda yang bersifat simbolis mengisahkan bahwa Masjid Agung Demak dibuat oleh para Wali dalam 1 (satu) malam.
Keempat saka guru Masjid Agung Demak merupakan sumbangan dari 4 (empat) wali yaitu Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga. Sedangkan saka berukir yang dipasang di serambi masjid dipercaya berasak dari Kerajaan Majapahit dan disebut “Saka Majapahit”. Sehubungan dengan hal tersebut, Kabupaten Wonogiri memiliki peran yang sangat penting. Seperti wali yang lainnya, Sunan Giri segera melaksanakan tugasnya untuk mencari kayu jati. Beliau mencari kayu jati ke arah selatan menyusuri Sungai Bengawan Solo. Dikisahkan sepanjang perjalanan selalu melewati hutan dan gunung. Sampailah perjalanan Sunan Giri di sebuah hutan di sebuah gunung yang penuh dengan Pohon Jati. Melalui ijin dari Ki Donosari si pemilik hutan tersebut, Sunan Giri memilih pohon jati yang sangat tua yang tinggi, besar dan lurus. Untuk memudahkan cara pengangkutan kayu jati tersebut dihanyutkan melalui Sungai Kedawung yang bermuara di Sungai Bengawan Solo. Di sini terdapat cerita legenda bahwa saat mengangkut kayu ke sungai Kedawung, Ki Donosari memerintahkan sinden untuk naik di atas kayu dan melantunkan tembang mocopat. Anehnya, kayu terasa lebih ringan dan mudah dibawa. Sesampainya di Sungai Kedawung, Sunan Giri memberi nama daerah tersebut “Wonogiri”, karena sepanjang jalan yang dilihatnya hanya hutan dan gunung. Dalam perjalanannya Sunan Giri melewati sebuah gunung. Di sana menemui orang yang selalu membuntuti dari Bintaro. Maka Sunan Giri memerintahkan untuk menunggui daerah tersebut dan memberi nama daerah tersebut “Gunung Giri” yang berarti bukit kecil yang ditumbuhi pohon jati. Pada masa Kerajaan Mataram Islam di daerah ini didirikan astana para kerabat keraton.
b. Masa Kerajaan Mataram (Kartasura) Perkembangan organisasi pemerintahan pada masa Islam di Wonogiri dimulai di Nglaroh, salah satu daerah yang pada masa sekarang masuk dalam wilayah Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Berdasar pada temuan watu gilang yang konon merupakan tempat duduk Pangeran Samber Nyawa atau Raden Mas Said. Tempat tersebut juga dipercaya sebagai lahirnya pemerintahan di Wonogiri. Raden Mas Said adalah salah satu pangeran dari Kerajaan Mataram (Kartasura) yang mengasingkan diri karena ketidakadilan di dalam keraton. Raden Mas Said lahir di Kartasuro pada hari Minggu Legi, tanggal 4 Ruwah 1650 tahun Jimakir, Windu Adi Wuku Wariagung, atau bertepatan dengan tanggal Masehi 8 April 1725. Raden Mas Said merupakan putra dari Kanjeng Pangeran Aryo Mangkunegoro dan Raden Ayu Wulan yang wafat saat melahirkannya. Sementara itu saat usia 2 tahun sudah ditinggal ayahnya Pangeran Ario Mangkunegoro, Salah satu raja Mataram (Kartasura) karena diasingkan oleh pemerintah Belanda di bawah perintah Kapitan Van Hogendorff di Cailon (Srilanka) dalam rangka memecah belah persatuan di tubuh keraton dan digantikan oleh PB II. Hal itu karena ulah keji berupa fitnah dari Kanjeng Ratu dan Patih Danurejo. Akibatnya, Raden Mas Said mengalami masa kecil yang jauh dari selayaknya seorang bangsawan Keraton. Raden Mas Said menghabiskan masa kecil bersama anak-anak para abdi dalem lainnya, sehingga mengerti betul bagaimana kehidupan kawula alit. Di lain pihak, RM Said merupakan cucu dari Mas Sumarsono (istri PB II) yang berasal dari Nglaroh, Wonogiri. Pada usia 13 tahun, RM. Said diberi jabatan sebagai Manteri Anom dengan sebutan RM. Suryokusumo, sejajar dengan Abdi Dalem Menteri. Perlakuan ini dianggap semena-mena, karena RM. Said seharusnya menjadi Pangeran Sentana. Sehingga RM. Said tidak menyukai sikap PB II yang selalu tunduk kepada aturan Belanda . Hingga pada hari Rabu Kliwon, tanggal 3 Rabiulawal (Mulud) Windu Sengara, 1666 Tahun Jawa atau tanggal 19 Mei 1741 M, RM. Said yang didampingi neneknya BRA. Kusumonarso beserta pengikutnya meninggalkan istana menuju Dusun Nglaroh, Wonogiri guna menyusun kekuatan melawan pasukan Kapitan Van Hogendorff (bukan PB II). Hari yang sama rombongan telah sampai tujuan dan langsung membangun pusat pemerintahan beserta perlengkapannya (institusi pemerintah) yang terdiri dari RM. Sutowijoyo sebagai senopati dan Ki Wirodiwongsi (warga setempat) sebagai patih serta 22 orang sebagai prajurit. Dalam mengendalikan perjuangannya, Raden Mas Said mengeluarkan semboyan yang sudah menjadi ikrar sehidup semati yang terkenal dengan sumpah “Kawulo Gusti” atau “Pamoring Kawulo Gusti” sebagai pengikat tali batin antara pemimpin dengan rakyatnya, luluh dalam kata dan perbuatan, maju dalam derap yang serasi bagaikan keluarga besar yang sulit dicerai-beraikan musuh. Ikrar tersebut berbunyi “tiji tibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh”. pasukan inti kemudian berkembang menjadi perwira-perwira perang yang mumpuni dengan sebutan Punggowo Baku Kawandoso Joyo. c. Pemerintahan di Nglaroh Pemerintahan yang dibangun oleh RM. Said di Dusun Nglaroh diawali tepat pada hari Rabu Kliwon, Tanggal 3 Rabiul Awal Tahun 1666 dengan candra sengkala “Roso Retu Ngoyeg Jagad” atau bertepatan dengan tanggal 19 Mei 1741 M dengan surya sengkala “Kahutaman Sumebaring Giri Linuwih”. Bentuk pemerintahan di Dusun Nglaroh masih sangat terbatas dan sangat sederhana dan dikemudian hari menjadi simbol semangat pemersatu perjuangan rakyat. Tanggal ini pula yang dijadikan hari jadi Kabupaten Wonogiri. Inisiatif untuk menjadikan Wonogiri (Nglaroh) sebagai basis perjuangan Raden mas Said, adalah dari rakyat Wonogiri sendiri ( Wiradiwangsa) yang kemudian didukung oleh penduduk Wonogiri pada saat itu.
Raden Mas Said juga menciptakan suatu konsep manajemen pemerintahan yang dikenal sebagai Tri Darma yaitu :
1. Mulat Sarira Hangrasa Wani, artinya berani mati dalam pertempuran karena dalam pertempuran hanya ada dua pilihan hidup atau mati. Berani bertindak menghadapi cobaan dan tantangan meski dalam kenyataan berat untuk dilaksanakan. Sebaliknya, disaat menerima anugerah baik berupa harta benda atau anugerah lain, harus diterima dengan cara yang wajar. Hangrasa Wani, mau berbagi bahagia dengan orang lain.
2. Rumangsa Melu Handarbeni, artinya merasa ikut memiliki daerahnya, tertanam dalam sanubari yang terdalam, sehingga pada akhirnya pada akhirnya akan menimbulkan perasaan rela berjuang dan bekerja untuk daerahnya. Merawat dan melestarikan kekayaan yang terkandung didalamnya.
3. Wajib Melu Hangrungkebi, artinya dengan merasa ikut memiliki timbul kesadaran untuk berjuang hingga titik darah penghabisan untuk tanah kelahirannya.
D. MASA KOLONIAL
a. Kondisi Wonogiri saat akhir Keraton Mataram (Kartasura) Pada tahun 1741 M, pada saat perjalanan RM. Said dan rombongan menuju Dusun Nglaroh, Daerah Wonogiri belum terjamah Belanda. Berdasar dari sebuah kisah, bahwa sepanjang jalan menuju Nglaroh suasananya sangat nyaman dan tentram. Namun masyarakat setempat mengetahui keberadaan Kolonial Belanda di Surakarta (Pusat pemerintahan) dan bersikap membenci terhadap kolonial Belanda. Hal ini sangat menguntungan RM. Said dalam rangka menyusun kekuatan untuk menentang kolonial Belanda.
b. Perjuangan RM. Said Melawan Penjajah Kegigihan Raden Mas Said dalam memerangi musuh-musuhnya sudah tidak diragukan lagi, bahkan hanya dengan prajurit yang jumlahnya sedikit, tidak akan gentar melawan musuh. Raden Mas Said merupakan panglima perang yang mumpuni, terbukti selama hidupnya sudah melakukan tidak kurang 250 kali pertempuran dengan tidak menderita kekalahan yang berarti. Dari sinilah Raden Mas Said mendapat julukan “Pangeran Sambernyawa” karena dianggap sebagai penebar maut (Penyambar Nyawa) bagi siapa saja musuhnya pada setiap pertempuran. Cerita tentang perjuangan RM. Said tertuang dalam cerita rakyat. Dikisahkan terjadi pertempuran di Dusun Dlepih, Tirtomoyo. Pasukan RM. Said dikepung oleh pasukan Belanda. Semua jalan telah tertutup dan satu-satunya jalan hanya menyeberangi sungai yang sedang banjir. Dalam menghadapi kesulitan tersebut, RM Said mengambil tindakan menendang pohon beringin yang berada di pinggir kali hingga roboh melintangi sungai. Dengan segera pasukan RM. Said meniti pohon beringin tersebut. Saat Belanda mengejar dengan jalan yang sama, pasukan RM. Said segera menyambut dengan senjata. Dalam menghadapi perjuangan RM. Said, Belanda mengalami kerugian besar. Pertempuran tersebut membutuhkan dana yang sangat besar. Demikian pula pasukannya banyak yang tewas. Belanda merasa kewalahan sehingga mencari jalan damai melalui suatu perundingan. Berdasar Perjanjian Salatiga, RM Said dinobatkan menjadi Raja Pura Mangkunegaran dan berhak atas tanah 6000 karya beserta daerah-daerah yang dikuasainya terlebih dahulu.
c. Kerajaan Mangkunegaran Berkat keuletan dan ketangguhan Raden Mas Said dalam taktik pertempuran dan bergerilya sehingga luas wilayah perjuangannya meluas meliputi Ponorogo, Madiun dan Rembang bahkan sampai daerah Yogyakarta. Pada akhirnya atas bujukan Sunan Paku Buwono III, Raden Mas Said bersedia diajak ke meja perundingan guna mengakhiri pertempuran. Dalam perundingan yang melibatkan Sunan Paku Buwono III, Sultan Hamengkubuwono I dan pihak Kompeni Belanda, disepakati bahwa Raden Mas Said mendapat daerah kekuasaan dan diangkat sebagai Adipati Miji atau mandiri bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro I. Penetapan wilayah kekuasaan Raden Mas Said terjadi pada tanggal 17 Maret 1757 melalui sebuah perjanjian di daerah Salatiga. Kedudukannya sebagai Adipati Miji sejajar dengan kedudukan Sunan Paku Buwono III dan Sultan Hamengkubuwono I dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah Keduwang (daerah Wonogiri bagian timur), Honggobayan (daerah timur laut Kota Wonogiri sampai perbatasan Jatipurno dan Jumapolo Kabupaten Karanganyar), Sembuyan (daerah sekitar Wuryantoro dan Baturetno), Matesih, dan Gunung Kidul. KGPAA Mangkunegoro I membagi wilayah Kabupaten Wonogiri menjadi 5 (lima) daerah yang masing-masing memiliki ciri khas atau karakteristik yang digunakan sebagai metode dalam menyusun strategi kepemimpinan, yaitu :
1. Daerah Nglaroh (wilayah Wonogiri bagian utara, sekarang masuk wilayah kecamatan Selogiri). Sifat rakyat daerah ini adalah Bandol Ngrompol yang berarti kuat dari segi rohani dan jasmani, memiliki sifat bergerombol atau berkumpul. Karakteritik ini sangat positif dalam kaitannya untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Rakyat di daerah Nglaroh juga bersifat pemberani, suka berkelahi, membuat keributan akan tetapi jika bisa memanfaatkan potensi rakyat Nglaroh bisa menjadi kekuatan dasar yang kuat untuk perjuangan.
2. Daerah Sembuyan (wilayah Wonogiri bagian selatan sekarang Baturetno dan Wuryantoro), mempunyai karakter sebagai Kutuk Kalung Kendho yang berarti bersifat penurut, mudah diperintah pimpinan atau mempunyai sifat paternalistik.
3. Daerah Wiroko (wilayah sepanjang Kali Wiroko atau bagian tenggara Kabupaten Wonogiri sekarang masuk wilayah Kecamatan Tirtomoyo). Masyarakat didaerah ini mempunyai karakter sebagai Kethek Saranggon, mempunyai kemiripan seperti sifat kera yang suka hidup bergerombol, sulit diatur, mudah tersinggung dan kurang memperhatikan tata krama sopan santun. Jika didekati mereka kadang kurang mau menghargai orang lain, tetapi jika dijauhi mereka akan sakit hati. Istilahnya gampang-gampang susah.
4. Daerah Keduwang (wilayah Wonogiri bagian timur) masyarakatnya mempunyai karakter sebagai Lemah Bang Gineblegan. Sifat ini bagai tanah liat yang bisa padat dan dapat dibentuk jika ditepuk-tepuk. Masyarakat daerah ini suka berfoya-foya, boros dan sulit untuk melaksanakan perintah. Akan tetapi bagi seorang pemimpin yang tahu dan paham karakter sifat dan karakteristik mereka, ibarat mampu menepuk-nepuk layaknya sifat tanah liat, maka mereka akan mudah diarahkan ke hal yang bermanfaat.
5. Daerah Honggobayan (daerah timur laut Kota Wonogiri sampai perbatasan Jatipurno dan Jumapolo Kabupaten Karanganyar) mempunyai karakter seperti Asu Galak Ora Nyathek. Karakteristik masyarakat disini diibaratkan anjing buas yang suka menggonggong akan tetapi tidak suka menggigit. Sepintas dilihat dari tutur kata dan bahasanya, masyarakat Honggobayan memang kasar dan keras menampakkan sifat sombong dan congkak serta tinggi hati, dan yang terkesan adalah sifat kasar menakutkan. Akan tetapi mereka sebenarnya baik hati, perintah pimpinan akan dikerjakan dengan penuh tanggungjawab. Dengan memahami karakter daerah-daerah tersebut, Raden Mas Said menerapkan cara yang berbeda dalam memerintah dan mengendalikan rakyat diwilayah kekuasaannya, menggali potensi yang maksimal demi kemajuan dalam membangun wilayah tersebut.
Pada tahun 1775 M, Kasunanan Surakarta telah jatuh di tangan kolonial Belanda dengan berdirinya Benteng Vasternburg di dekat keraton. Wonogiri juga sedikit banyak berpengaruh dengan keberadaan Penjajahan tersebut. Di bawah perintah Mangkunegara I, Kabupaten Wonogiri selalu giat melawan kolonial Belanda. Raden Mas Said memerintah selama kurang lebih 40 tahun dan wafat pada tanggal 28 Desember 1795. Setelah Raden Mas Said meninggal dunia, kekuasaan trah Mangkunegaran diteruskan oleh putra-putra beliau. Pada masa kekuasaan KGPAA Mangkunegara VII terjadi peristiwa penting sekitar tahun 1923 M yakni perubahan status daerah Wonogiri yang dahulu hanya berstatus Kawedanan menjadi Kabupaten. Saat itu Wedana Gunung Ngabehi Warso Adiningrat diangkat menjadi Bupati Wonogiri dengan pangkat Tumenggung Warso Adiningrat. Akibat perubahan status ini, wilayah Wonogiri pun dibagi menjadi 5 Kawedanan yaitu Kawedanan Wonogiri, Wuryantoro, Baturetno, Jatisrono dan Purwantoro. Pada saat itu di wilayah kekuasaan Mangkunegaran dilakukan penghematan anggaran keraton dengan menghapuskan sebagian wilayah Kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar sehingga wilayah Mangkunegaran manjadi dua yaitu Kabupaten Mangkunegaran dan Kabupaten Wonogiri. Ini berlangsung sampai tahun 1946. d. Masa Cultuur Stelsel Pada masa tanam paksa, Pemerintah Hidia-Belanda membangun jalur rel kereta api Semarang – Surakarta (110 Km) pada tanggal 10 Februari 1870.
Hal ini merupakan salah satu cara agar pengangkutan hasil bumi ke Kota Semarang semakin lancar. Terkait dengan hal tersebut, Wonogiri banyak menyumbangkan hasil buminya kepada kasunanan Surakarta untuk diserahkan kepada Pemerintah Hindia-Belanda. Sementara itu pengangkutan kayu dari Wonogiri menuju Solo masih menggunakan cikar yang ditarik kuda atau sapi. Jalur kereta api (KA) antara Solo-Wonogiri sendiri baru dibangun pada tanggal 1 April 1923 dan kemudian dioperasikan oleh Netherlands Indische Spoorwage (NIS) sebuah perusahaan swasta Pemerintah Hindia Belanda. Panjang jalur 33 kilometer, sebagian darinya melintas di tengah Kota Solo. Kereta api Bengawan Wonogiri atau yang lebih dikenal dengan Kereta Feeder Wonogiri. Kereta ini lebih difungsikan untuk kereta penumpang dengan stasiun yang terletak di Giripurwo, Wonogiri, Wonogiri dan berketinggian +144 m dpl. e. Masa Politik Etis Untuk kepentingan pendidikan, pada tahun 1927 pemerintah Hindia-Belanda juga mendirikan sekolah di Wonogiri. Sejak pemerintahan Belanda menerapkan politik Etis banyak sekolah mulai didirikan, walaupun sekolah-sekolah tersebut tidak sebanding dengan jumlah anak usia sekolah. Sekolah-sekolah yang didirikan adalah untuk kepentingan kolonial, baik kepentingan dalam bidang politik, ekonomi maupun administrasi. Jadi sama sekali tidak ditujukan untuk kepentingan rakyat Indonesia. Pada awalnya didirikan Sekolah Bumi Putra bagi para priyayi. Sekolah bumiputra Kelas Satu kelak menjadi Holands Inlandse School (HIS). Namun anak keluaran HIS pada umumnya tidak dapat diterima di sekolah yang lebih tinggi tingkatannya dalan hal ini MULO karena kurang kepandaiannya, teutama mengenai Bahasa Belanda.
E. MASA KEMERDEKAAN Sejak Republik Indonesia merdeka, tanggal 17 Agustus 1945 sampai tahun 1946 di wilayah Mangkunegaran terjadi dualisme pemerintahan, yaitu Kabupaten Wonogiri masih dalam wilayah monarki Mangkunegaran dan di lain pihak menginginkan Kabupaten Wonogiri masuk dalam sistem demokrasi Republik Indonesia. Timbulah gerakan Anti Swapraja yang menginginkan Wonogiri keluar dari sistem kerajaan Mangkunegaran. Akhirnya disepakati bahwa Kabupaten Wonogiri tidak menghendaki kembalinya Swapraja Mangkunegaran. Sejak saat itu Kabupaten Wonogiri mempunyai status seperti sekarang, dan masuk sebagai Kabupaten yang berada diwilayah Propinsi Jawa Tengah. Sekitar tahun 1948, ada usaha penjajah Belanda ingin berkuasa kembali dengan cara mengirimkan pasukan lengkap dengan persenjataannya, ke wilayah Surakarta selatan untuk menguasai Kabupaten Sukoharjo dan Wonogiri. Menyikapi manuver tentara Belanda itu, sejumlah pejuang TRI berinisiatif memasang tiga buah track bom di ketiga dasar tiang jembatan agar jembatan hancur, agar tentara Belanda tidak dapat melaju ke Wonogiri. Tapi skenario peledakan jembatan tidak berjalan sesuai rencana. Karena hanya satu bom yang terpasang di tengah yang meledak. Dua bom lainnya, di tiang jembatan sisi utara dan selatan, gagal meledak. Jembatan Nguter rusak di bagian tengahnya. Hal ini cukup menghambat laju pernyusupan tentara Belanda ke Wonogiri. Meskipun kemudian, Belanda menempuh cara melintasi Bengawan Solo dengan meniti jembatan kereta api (KA), dan berupaya memperbaiki bagian tengah jembatan Nguter yang rusak oleh ledakan bom. Selesai perbaikan, kemudian dicoba untuk lewat. Tapi dua tank tempur Belanda berserta kelengkapan amunisinya, terjerumus ke dasar sungai Bengawan Solo. Dua tank tempur itu tidak dapat diangkat ke atas karena terbenam lumpur.



Alas Roban Kabupaten Batang

Alas Roban, hutan kecil di sebuah Kecamatan Gringsing, kecamatan yang terletak paling timur di Kabupaten Batang - Jawa Tengah. Jalanan yang begitu menanjak dan berkelok di sebuah bukit dengan rindangnya pepohonan jati berukuran besar. Jalur yang dikenal angker karena banyak kejadian yang tak lazim dan banyaknya kecelakaan. Di jalur lama (tengah) terdapat tugu keselamatan. Tak jauh dari itu terdapat makam petilasan Syekh Jangkung yang dulu pernah berkuasa di daerah itu, namun nisan untuk memperingatinya tumbang di dekat salah satu pohon jati yang cukup besar.
Roban berasal dari kata ‘rob’ yang berarti air naik, kata ini sangat dikenal oleh masyarakat pesisiran. Kampung Roban sendiri ada di Kecamatan Subah. Roban berada di daerah pantai Laut Jawa. Suasana tempat ini hingga sekarang masih saja diselimuti hawa mistik yang kental. Perkampungan Roban dahulu dikenal dengan Roban Siluman. Konon pada waktu yang telah lampau, masyarakat Roban banyak yang memiliki ilmu tinggi hingga dapat merubah dirinya sebagai buaya. Dari sinilah dikenal siluman buaya yang menjadikan Roban sebagai Roban Siluman.
Namun demikian Alas Roban dan Roban memiliki peran penting jika dilihat dari sejarahnya. Kabupaten Batang dahulu dikenal sebagai kawasan Alas Roban yang masih sepi belum seramai pemukiman penduduk sekarang ini. Alas Roban dikenal dengan tempatnya para siluman, lelembut, dan garong (perampok). Kawasannya terhitung mulai Perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Batang saat ini hingga Kota Pekalongan. Pada jaman Pemerintahan Sultan Agung Mataram Islam sekitar tahun 1620an, terjadi penolakan paham antara VOC dan Mataram yang sebelumnya menjalin diplomasi dalam kawasan dan penyediaan persenjataan. Sultan Agung bermaksud menggempur VOC yang berada di Batavia. Pasukan yang terlibat dalam penyerangan berasal dari berbagai tempat di Jawa. Untuk dapat mendukung persediaan logistik maka dibangun pos-pos pendukung logistik di berbagai tempat yang salah satunya di Alas Roban. Dalam membangun pos di Alas Roban, Sultan Agung mengutus Ki Bahurekso untuk membuka Alas Roban. Pembukaan konon dimulai dari Kecamatan Subah ke arah barat. Hal ini dimaksudkan untuk membuka lahan yang akan digunakan untuk menanam berbagai macam sumber makanan untuk mendukung kebutuhan logistik. Pada saat berada di Kali Lojahan (Kramat), Bahurekso berencana membuat bendungan. Namun di tempat yang akan di bangun bendungan terdapat kayu besar yang melintang di sungai. Kemudian beliau bertapa pada Malam Jum’at Kliwon untuk mendapatkan bantuan kekuatan. Kemudian kayu dapat diangkat dan dihancurkan, peristiwa ini disebut Ngembat Watang (Mengangkat Kayu) yang kemudian dijadikan nama Batang. Peristiwa pertapaan Ki Bahurekso kemudian diperingati dengan acara Kliwonan yang dilaksanakan setiap Jum’at Kliwon di Alun-Alun Kota Batang.
Pos yang dibangun diperkirakan berada di daerah Balekambang, Gringsing. Di sini terdapat pesanggrahan yang diyakini peninggalan Sultan Mataram. Ditambah dengan adanya patung ular yang mirip dengan Hardowaliko yang dipamerkan di Kraton Mataram Jogjakarta namun tanpa mahkota. Balekambang adalah sebuah bangunan diatas sumber mata air yang muncul dari tanah. Di sekitarnya terdapat rawa yang cukup luas yang kini berubah menjadi persawahan. Dapat dilihat dengan jelas bahwa persawahan di sekitarnya adalah sawah yang berdiri diatas bekas rawa karena tekstur tanahnya. Balekambang kemudian dijadikan sumber irigasi untuk sawah yang luas.
Jalur Tengah (lama) Alas Roban dibangun oleh Belanda, tak jauh dari jalur lama itu terdapat Goa Jepang. Goa Jepang dibangun sekitar tahun 1942 oleh Jepang. Di Batang ditemukan 2 Goa Jepang yaitu di Alas Roban dan Pantai Roban. Goa Jepang di Alas Roban terdapat sekitar 13 mulut goa buatan saat romusha dan 1 goa alami. 1 goa berkedalaman 30 meter lebih, dan 12 lainnya antara 5-20 meter letaknya berjajar di dekat sungai kecil. 1 goa alami terletak di atas bukit. Untuk goa buatan yang berkedalaman 30 meter lebih konon dapat menampung 8 tank ukuran tank saat itu. Sungai kecil yang ada di dekat goa ternyata adalah bekas jalur tank yang menghubungkan jalur lama dengan jalur lingkar yang baru dibangun tahun-tahun lalu.
Goa Pantai Roban dibangun sekitar 1942 dan digunakan hingga tahun 1948 oleh Jepang. Goa Pantai Roban ini terletak didekat Kali Ngodek yang cukup lebar dan berkedalaman 20 meter. Menurut saksi mata dahulu ini dijadikan pelabuhan Jepang saat memperebutkan Indonesia dengan Belanda. Goa tersebut dijadikan persembunyian oleh jepang. Jepang pada tahun 1945 saat kemerdekaan RI belum pergi dari Indonesia, mereka baru pergi dari Indonesia setelah sekutu melepaskan bom atom ke kota Nagasaki dan Hirosima.
Misteri Alas Roban (RUTE PALING MENYERAMKAN)

Meski terkenal sebagai kawasan hutan jati ‘spooky' di Jawa Tengah , tempat ini punya cerita tersendiri . Khususnya di ‘zaman silam', ketika ruas baru Alas Roban yang dibangun Pemerintah Indonesia belum ada. Semua jenis kendaraan, mulai bus umum, truk sampai kendaraan pribadi harus melintasi rute ini.
Salah satu kebiasaan yang dilakukan orangtua saya ketika kami -putra-putrinya-masih kecil adalah berwisata dengan mobil pribadi dari Jawa Timur ke Jawa Tengah saat liburan sekolah anak-anak. Dan itu artinya melintasi rute sepanjang Pantura dari Surabaya sampai Semarang, ditambah Jogjakarta, Solo sampai Temanggung dan Parakan.
Salah satu rute favorit kami sebagai anak-anak di bawah limabelas tahun adalah Alas Roban, lengkap dengan segala kisah ‘spooky' yang dimilikinya. Seperti kondisinya sebagai bagian dari Grote Postweg, jalanan licin tanpa penerangan di malam hari dengan lintasan berliku-liku alias meliuk-liuk yang bisa bikin perut mual, sampai begal atau rampok yang menunggu di tempat-tempat strategis.
Termasuk juga ‘wingitnya' atau seramnya si hutan sendiri dalam deskripsi visual. Sebelum masuk hutan dan sesudah keluar hutan, terdapat begitu banyak resto dan warung makanan. Termasuk sate kambing muda Subali di daerah Subah yang cukup terkenal itu. Tapi begitu masuk hutan sejauh 1 km, tak ada warung apapun yang bisa dijadikan tempat ‘ngiras' atau mengudap makanan.
Jelajah Keangkeran Alas Roban, Batang, Jawa Tengah.
Adakah perjalanan yang lebih menyeramkan yang melebihi perjalanan melewati Alas Roban? Zaman dulu Alas Roban terkenal angker, gung liwang-liwung, gawat keliwat liwat menjadi momok menakutkan bagi masyarakat ataupun sopir ketika melewatinya. Bagaimana dengan sekarang? Misteri apa sebenarnya yang menyelimuti hutan angker ini?
Menuju Alas Roban dari Semarang, bisa ditempuh 2 jam perjalanan dengan mengendarai sepeda motor. Setelah perbatasan Kendal di sebelah barat, alas itu bisa dicapai kira-kira lima belas menit perjalanan.
Ada dua jalur yang harus dipilih ketika sampai di Desa Kutosari. Kalau Anda melewati Alas Roban yang sebenarnya, maka ambil jalur kanan. Dari jalur sebelah kanan ini, jalur lurus yang ditempuh juga akan menemui muara 2 jalur lagi. Nah, jalur yang terkenal menyeramkan adalah jalur yang sebelah kiri.
Sebenarnya, saat ini jalur Alas Roban terbagi menjadi tiga. Jalur yang pertama melewati sisi selatan, dengan jalanan menanjak dengan beton putih. Jalur ini dimulai dari Desa Kutosari seperti yang disebutkan di atas. Jalan ini baru dibangun sekitar tahun 2000-an. Kemudian jalur yang kedua, ini dimulai dari Desa Plelen. Jalur dari Plelen ini bercabang dua. Jalur asli Alas Roban yang terletak di kiri. Sementara jalur yang kanan atau jalur yang ketiga, berada di sisi utara yang dibangun sekitar tahun 1990-an.
Keangkeran Alas Roban memang sudah terkenal sejak dulu. Utamanya ketika dua jalur di sisi selatan dan utara belum dibangun. Setiap pengendara pasti mengalami peristiwa yang berbeda-beda ketika melewatinya. Hal ini karena memang jalanan yang turun-naik, menikung tajam, dengan kiri kanan terdapat tebing atau jurang.
Tetapi bukan itu sebenarnya yang menyeramkan. Dahulu, ketika akan lewat jalur ini akan melewati dua tantangan sekaligus. Tantangan pertama, tantangan yang kelihatan mata, yaitu adanya gerombolan penjahat dan bajing loncat yang siap menggasak barang bawaan apa saja. Dulu, karena rawannya, kendaraan yang melintas malam hari tidak berani. Untuk kendaraan yang datang dari arah timur atau Semarang berhenti di depan Pasar Plelen. Sementara dari arah barat atau Jakarta, istirahat di Banyuputih. Mereka baru berani melintasi jalan Alas Roban ketika pukul 05.00 WIB. Kalaupun ada yang berani melintas malam hari, harus menunggu kendaraan lainnya.
Tantangan yang kedua, tantangan makhluk halus, yaitu gerombalan berbagai makhluk halus yang siap ”menggoda” siapa saja. Godaan antara sopir yang satu dengan yang lain jelas berbeda. Dan godaan ini bisa berakibat fatal karena seringkali terjadi kecelakaan karena si sopir melihat sesuatu penampakan.
Jika menengok ke belakang, jalan raya Alas Roban hanya ada satu, yaitu Jalan Raya Poncowati. Jalan itu dibuat pada era pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36. Dia memerintah antara tahun 1808 hingga 1811. Dan untuk membangun jalan ini, ribuan orang Indonesia meninggal karena tak kuat. Orang-orang Indonesia dipaksa. Orang-orang yang meninggal tersebut kemudian dikubur begitu saja.
Namun demikian, Alas Roban memiliki peran penting jika dilihat dari sejarahnya. Kabupaten Batang dahulu dikenal sebagai kawasan Alas Roban yang masih sepi belum seramai pemukiman penduduk sekarang ini. Alas Roban dikenal dengan tempat para siluman, lelembut, dan garong (perampok). Pada zaman Pemerintahan Sultan Agung Mataram Islam sekitar tahun 1620-an, terjadi penolakan paham antara VOC dan Mataram yang sebelumnya menjalin diplomasi dalam kawasan dan penyediaan persenjataan.
CERITA MISTERI ALAS ROBAN
Warung Makan Gaib
kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman gaib yg cukup membuat kami sekeluarga trauma & berfikir jutaan kali untuk sembarangan berhenti di jalan utk mengisi perut.
waktu itu saya masih tinggal di secang magelang. kami sekeluarga akan pergi ke jakarta menggunakan kendaraan pribadi. sejak pagi saya & keluarga sudah sibuk prepared & packing. kami sekeluarga berniat akan berlibur sekaligus silaturahmi ke saudara di jakarta, lalu kami berniat berangkat dr magelang sore hari. jadi per jalanan akan lebih santai & bapak berniat menghindari keramaian kl melakukan perjalanan jarak jauh disiang hari.
dan berangkatlah kami sekeluarga dr magelang kira2 jam 4 sore dari magelang, rute yang kami ambil melalui jalur utara. selama perjalanan kami tidak memiliki firasat buruk apapun. Dan perjalanan panjang pun dimulai. Tak terasa hari sudah mulai gelap, dan adzan magrib sudah berkumandang. kami memutuskan utk istirahat sejenak dimasjid sekaligus menunaikan sholat magrib. setelah selesai sholat, kami pun melanjutkan perjalanan. semakin jauh kami melaju semakin larut malam yang menemani perjalanan, yang semula di awal perjalanan, suasana didalam mobil begitu ramai & penuh canda tawa saya dan kedua adik saya, berubah perlahan menjadi suasana sepi. mungkin karena ibu & kedua adik saya sudah tidur terlelap. dan yang masih terjaga saat itu hanya saya dan bapak. jam menunjukan pukul 10.30 malam, kami sudah memasuki area alas roban, jalanan berliku ditengah hutan & tanah alas, jauh dari kehidupan kota. disini suasana sudah mulai mencekam. bapak mengurangi laju kecepatan mobil karena kondisi jalan yg gelap & berliku penuh tanjakan turunan yang kiri dan kanan nya jurang. saya & bapak merasa ada hal yg ganjil & aneh, sejak kami memasuki area alas roban, kami tidak berpapasan dengan kendaran lain seperti bus antar provinsi & kendaraan lainnya , padahal jalur ini termasuk rute yang sering digunakan untuk menuju kota tegal. setelah melaju beberapa saat tiba2 ” Bruaaaaakkkk…!!! ” astagfirullah…mobil yang kami naiki menabrak sesuatu ditengah jalan.
Bapak langsung menepikan mobil kepinggir jalan dan mengambil senter yg ada di dashboard. saya & bapak kemudian turun dari mobil melihat situasi apa yang terjadi. ibu & kedua adik yg terbangun mendengar suara benturan tadi. langsung panik & mau keluar mobil, namun bapak melarangnya dan menyuruh ibu & adik2 tetap didalam.kemudian saya bergegas memeriksa bagian depan mobil & bapak memeriksa bagian bawah sampai belakang mobil. saya bener2 yakin benturan sekeras tadi seharusnya bisa membuat bamper mobil penyok atau memecahkan lampu kabut mobil, namun setelah saya periksa dengan seksama, tidak ada satu pun goresan di bagian depan mobil, bahkan debu & sedikit lumpur yang menempel pd bamper mobil pun masih utuh tak tersentuh. jujur saya kaget & heran. lalu bapak yang memeriksa bagian bawah sampai belakang mobil juga tidak menemukan benda yang kami tabrak tadi. kemudian saya memanggil bapak agar ikut memeriksa bagian depan mobil, mungkin dengan mencari berdua bisa menemukan kerusakan mobil akibat benturan keras tadi. kami sudah memeriksa beberapa kali ,setiap sudut bagian depan mobil, tidak ada satupun bekas benturan. lalu, apakah yang kami tabrak tadi? karena kami merasa ada yang tidak beres, saya & bapak lekas masuk kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanan. kedua adik ku langsung pindah posisi duduk, yang semula duduk di kursi paling belakang pindah ke kursi tengah bersama ibu, dan saya duduk di kursi depan menemani bapak. kami pun terus melaju di kegelapan malam alas roban, jam menunjukan pukul 12 malam. kedua adik ku sudah tertidur lagi, yang terjaga kali ini saya, bapak & ibu. tidak lama kemudia , hujan mulai turun, hujan nya hanya rintik2 namun cukup menggangu pandangan, sampai bapak harus membunyikan klakson disetiap akan memasuki tikungan yang tajam.
saya & ibu sengaja tidak membahas kejadian tadi, agar bapak tetap tenang & bisa berkonsentrasi dijalan. lalu dr kejauhan terlihat ada sepercik cahaya neon, allhamdullilah. sudah terlihat pemukiman, setelah semakin dekat ternyata itu sebuah warung makan pecel lele kecil tepat di sudut tikungan dibawah pohon, untuk menenangkan suasana kami memutuskan untuk singgah sejenak. saya & keluarga turun dr mobil, entah karena mengantuk atau ceroboh, kaki saya terbentur pasak penanda kilometer area. tertulis disitu kilometer 15. saya & keluarga masuk kedalam warung tersebut. penjualnya menyambut kami dengan ramah tamah, dengan logat khas pekalongan. kami memesan makanan & minuman panas. iseng2 saya bertanya, ” kok jam segini masih buka pak? bapak jual an ny sendirian?” penjual ny menjawab ” iya mas, ini sudah mau tutup kok, eh mas nya dateng, saya jualan sama istri saya. itu istri saya mas,” saya & bapak kaget, sejak kapan ada orang yang berdiri di samping pintu masuk warung. padahal tadi kami masuk lewat arah yang sama dan sekitarnya pohon besar. ya sudah lah, saya tidak terlalu memperdulikannya. karena perhatian saya tertuju pada ayam yang sedang di goreng. he…3x.
kami makan dengan lahap, dan ternyata rasa sambal ny enak, sangat cocok dilidah. sampai saya nambah sambal nya 2x. setelah kenyang menyantap ayam goreng. kami bergegas kembali ke mobil, saat mau masuk mobil, kaki saya terbentur pasak penanda kilometer 15 tadi. oke saya ceroboh. karena letak pasak itu persis didekat pintu mobil. jadi wajar kl saya terbentur pasak itu. mobil kami pun mulai melaju ditemani hujan rintik2 yang terus menguyur area alas roban. setelah beberapa saat akhirnya kami keluar dr area alas roban dan menuju tegal ,
singkat cerita , kami sudah menyelesaikan liburan kami di jakarta, karena tidak ingin mengalami kejadian seperti kemarin lagi. bapak memutuskan untuk berangkat dari jakarta pagi hari jadi ketika memasuki alas roban lagi, hari masih siang. setelah berjam-jam kami menempuh perjalanan. kami memasuki area alas roban sekitar jam 1 siang. lalu saya penasaran dengan warung pecel lele yang waktu itu kami singgah i. rasa sambal nya enak. namun sayang, warung pecel lele biasa nya buka ketika sore menjelang malam hari. adik saya tiba2 ingin buang air kecil. bapak kemudian menepikan mobil di tikungan jalan yg agak luas. dan menyuruh adik untuk buang air kecil mepet dengan mobil. sambil istirahat sejenak sekaligus menikmati pemandangan alas roban di siang hari, tidak dipungkiri kalau pemandangan alas roban sangat indah. kemudian saya melihat pasak kilometer bertuliskan kilometer 15. saya kaget luar biasa. itu pasak yang membentur kaki ku tempo hari. dan posisi pasak itu persis di tepi jurang. dan seingat ku, posisi warung pecel lele waktu itu kira2 3 meter di belakang pasak tadi. saya langsung memanggil bapak & ibu. dan menujukan pasak tadi dan lokasi warung. setelah diamati, tikungan nya persis seperti waktu itu, ada pohon besar ditepi jalan & pasak bertuliskan kilometer 15, namun 1meter belakang pasak itu sudah jurang yang sangat dalam. kesimpulannya. waktu itu kami sedang makan di pinggir jalan tepat melayang diatas jurang. hanya satu hal yang bisa menjelaskan kejadian tersebut. kami singgah di warung gaib.
Alas Roban, angker dan dikenal tempat pembuangan mayat